13 Menit
October 26, 2007
Setengah ragu aku menerima ajakan teman kantorku untuk bermain futsal di senayan. Saat itu kamis, kerjaan sedang banyak-banyaknya.Tidak ada dalam benakku untuk memikirkan kegiatan lain, pekerjaan di kantor sudah cukup membuatku lelah kebosanan, pulang kerja yang kupikirkan hanya tidur dan bersantai. Aku memang menyukai sepak bola, sangat, bahkan, saat SMP aku pernah bercita-cita untuk menjadi pemain sepak bola, Tapi sudah lebih dari 5 tahun, sejak lulus SMA, aku tidak pernah bermain lagi, bahkan olahraga pun jarang, akibatnya perutku sekarang membelendung tampak seperti orang yang hamil muda. Meski ada yang bilang, besar perut adalah besar kebijaksanaan, tetep aja tidak enak dilihat, dan dari dulu aku tidak pernah merasa bijak.anyway, bukan cuman itu, yang menjadi alasanku untuk ikut adalah karena “masalah” yang mengganggu ketenangan jiwaku selama ini. Dan temanku menyarankan untuk mencari kesibukkan, sehingga sejenak bisa melupakan “masalah” . Jadilah aku terima tawaran futsal itu
Pada awalnya kupikir akan menyenangkan, saat diberitahu kalau kita akan bermain pukul 7 malam. Waktu yang sangat strategis, bisa selesai jam 9 dan akan banyak cukup waktu untuk istirahat karena harus kerja esok harinya. Namun sayang saat harus diundur hingga jam 9 malam. Semakin ku ragu untuk jadi ikut atau tidak, tapi kemudian ku teringat lagi pada “masalah” itu, dan kuyakin, seandainya harus pulang dan istirahat, sampai belum tertidur, “masalah” itu akan terus mengganggu pikiranku dan menyiksa jiwaku. Dan lagi kupikir, aku lakukan ini demi perut yang perlu pembakaran intensif sehingga bisa ramping kembali (hahaha aku bahkan berharap bisa six pack). Jadilah jam 9 kami akan bermain futsal di senayan, di Gelanggang olah raga yang berada tepat disamping hotel Mulia Senayan.
Aku cukup bersemangat, dalam bayanganku, aku akan bermain cantik, mencetak banyak gol, dan dikagumi oleh semua pemain yang ada di lapangan saat itu, lalu mereka akan memberikan penjagaan super ketat untukku dan aku selalu berhasil melewati mereka untuk kemudian mencetak gol, sebuah bayangan dan khayalan yang benar-benar menggebu diriku untuk sesegera mungkin bermain. Pukul 9 kurang aku sampai di gelanggang olahraga, sedikit kecewa, kupikir akan segera bermain, ternyata lapangannya masih dipakai oleh tim voli. dan baru bisa kami pakai jam setengah sepuluh. setengah jam aku habiskan untuk ngobrol dan menyaksikan tim voli berlatih. Kulihat ada kelompok pria dan juga kelompok wanita. kelompok pria memiliki postur tubuh yang tinggi-tinggi, dan kelihatannya mereka cukup jago saat kulihat mereka berlatih. begitu juga dengan kelompok wanita. Berlatih dengan pakaian olahraga seperti itu, tim wanita memang memikat. kaos t-shirt biasa dengan celana pendek yang memperlihatkan paha mulus mereka, membuat lapangan saat itu menjadi tempat yang mengasyikkan untuk ditonton. Tapi tidak bagiku, biasa saja. Aku maklum dengan pakaian atletis mereka yang memikat, dan kuyakin mereka memakainya tanpa tujuan apapun kecuali untuk memudahkan mereka dalam melakukan pergerakan di lapangan, atau sekalipun iya,seharusnya pria jangan terperdaya atau sampai berpikir macam-macam. kemudian pukul setengah sepuluh kurang kulihat para pemain voli, pria dan wanita mulai melakukan gerakan pelemasan yang menurutku aneh. Kelompok pria melakukan gerakan mengangkat kaki lurus vertikal keatas dengan bahu berada dilantai dan tangan menopang tubuh untuk menjaga keseimbangan, baru pertama kali aku melihat seperti itu. Dan itu yang dinamakan pelemasan atau pendinginan. Kelompok wanita sama anehnya. berpasang-pasangan mereka duduk dilantai berhadapan. salah satu melebarkan kedua kaki sementara satunya lagi menekuk kaki, dan menarik tangan pasangannya. Tampak aneh dimataku, karena aku belum pernah melihatnya. sepuluh menit mereka melakukan itu, dan latihan selesai.
Giliran kami bermain. Aku sedikit risih saat ku sadar kalau aku tidak bawa baju untuk bermain. masih dengan celana panjang hitam kantor yang kupakai 5 kali seminggu, beserta kemeja biru lengan pendek butut kesukaanku, tampak sangat tidak enak dilihat sebagai pemain futsal. Bingung mencari pinjaman kaos, akhirnya aku dipinjami rompi tanpa lengan yang akan mempertontonkan lenganku yang gak berotot. Posisiku adalah kiper,oh no , betapa minimnya pengalamanku sebagai kiper dan aku tidak suka,mengerikan kalau bola yg melaju karena tendangan orang berbetis abang becak itu nemplok dimukaku. Tapi tidak ada alasan, mereka memintaku menjadi kiper hanya karena tidak ada yang mau jadi kiper, well no problem, aku berpikir, kalau ada kesempatan aku akan bermain sebagai gelandang dan mempertunjukkan kehebatanku sesungguhnya. Pertandingan dimulai, setiap tim terdiri dari 7 pemain dan seorang kiper. meski hanya sebagai kiper, aku tetap bertekad, Tidak akan ada gol untuk mereka >_<. Namun, baru berjalan 3 menit, sebuah tendangan datar mengarah ke pojok kanan gawang yang sedang kujaga. meski tidak terlalu keras, namun gerak reflekku yang lamban tidak bekerja sebagaimana mestinya, Dan Goll!!! tim lawan bersorak. Siall pikirku. belum-belum sudah kemasukan, aku bingung, namun dalam hati kuyakinkan diriku, no more goal. 3 Menit lagi… sebuah tendangan tidak terduga melajukan bola melewati pemain belakang tim kami, pandangan pada bola terhalang oleh pemain belakangku sendiri, dan golll!!! mereka kembali bersorak. Kulihat wajah-wajah kecewa kawan-kawan yang bermain setim denganku, dalam hati aku berpikir, salahkukah ini semua? namun itu tidak penting, aku berharap teman-teman didepan mampu mencetak gol dan menyamakan kedudukan. Tapi apa jadinya, tim lawan cukup tangguh, pertahanan mereka ketat. kulihat penyerangku selalu kehilangan bola, dan tak berhasil sekalipun membahayakan gawang lawan. Dan tanpa diduga, gol terjadi kembali, meski sedikit lupa bagaimana terciptanya, tapi aku yakin, gol kali ini terjadi karena kurangnya penjagaan terhadap penyerang-penyerang lawan. Begitupun dengan gol Keempat mereka, Tak lebih daripada kurangnya penjagaan pemain belakang tim kami. Sebuah tendangan bebas mengarah ke gawang, dan seorang pemain lawan hendak menyambutnya untuk disundul, namun aku terkecoh saat kupikir bola akan disundul dan mengarah ke kanan, yang ternyata tidak jadi disentuh dan justru malah masuk. Goll lagi !!! Semakin lesu kulihat kawan-kawan yang bermain saat itu. 4 Gol… tanpa balas. Tak lama pertandingan berakhir, kami istirahat, dan yang sekarang bermain adalah tim kedua. jadi sebenarnya, yang akan bermain futsal saat itu ada 4 tim. dan masing-masing akan bermain selama 15 menit. saat giliran tim kedua kami yang bermain, aku hanya bersantai, berbaring dilantai, menyesali gol-gol yang tidak semestinya terjadi. Aku tidak tahu, mungkin aku sudah terlalu berkarat sehingga refleks ku tidak secepat dulu.
15 menit berlalu dan tibalah kami bermain kembali. Dan akhirnya kesempatan itu datang. Kali ini aku bermain tidak sebagai kiper melainkan sebagai Gelandang. Betapa senang dan bersemangatnya aku saat itu. Dalam hati, akan kubuktikan, gerakanku yang cantik saat melewati musuh-musuhku dan mencetak gol seperti yang pernah kupertunjukkan saat SMA dulu. Menit pertama dimulai. Aku melebar kesamping, menunggu operan. dan saat operan itu datang, oopps, out.. siall… dengan tengan sambil sok kalem aku mundur bertahan. Dan… aku berlari kesana kemari, tanpa bola, seperti orang kebingungan, dan saat bola datang aku berusaha mengejar sekuat tenaga. dan saat kudapatkan, secepat kilat pemain menghampiriku, mencoba merebut tuh bola, dan aku coba pertahanin, namun entah kenapa kakiku begitu lemas, tak mampu untuk bertumpu. sekejab tuh bola dah jatuh ketangan mereka. Terus seperti itu, menit pertama, aku masih semangat-semangatnya, lima menit kemudian, kaki sudah mulai lemas bahkan hanya untuk berlari, menit ke sepuluh, pala sudah senut-senut, napas tersengal-sengal, kaki lemas tak kuat tuk bertumpu… menit ke tiga belas, Aku berhenti dan digantikan oleh pemain lain. Itulah akhirnya. kurang lebih selama 13 menit saja aku mampu bertahan, hanya selama itu adalah batas yang kucapai, dengan hasil sangat mengecewakan. Apanya permainan cantik, apanya mencetak gol banyak, apanya Gocekan-gocekan maut. Tidak ada, Hanya permainan kikuk seorang Kuli Kantoran yang gak pernah olah raga, dengan perut yang lebih menonjol daripada anggota tubuh manapun manusia malang itu. Begitu tersengal-sengalnya napasku saat itu, kepalaku blank seperti orang kekurangan oksigen. Kliyengan , kecapean dan perut mual. Aku menyesal dan berkata…
Inilah batasku, 13 Menit.
inilah batasku 13 Menit…
Waktu yang kusanggupi untuk tetap bertahan
dari harapan sebuah pembuktian
dengan keringat dan kerja keras
inilah batasku 13 Menit…
Waktu yang kusanggupi untuk berbuat
sesuatu yang tak berarti untuknya
kecuali semangat yang tulus diriku
inilah batasku 13 Menit…
Waktu yang singkat, bila kau yang harus kuperjuangkan
untuk kulindungi, dan kubela..
sampai akhirnya ku mati
Perasaan kecewa coba kuhilangkan, dengan mencoba menikmati pertandingan yang tersisa sambil duduk dilantai merebahkan kakiku yang benar-benar lemas. Aku benar-benar butuh air, namun tidak ada air disana. jadi terpaksa aku tetap duduk dilantai berusaha mengatur nafasku yang tersengal tidak karuan dengan pikiran yang kosong.
Tak lama pertandingan usai, aku minum, dan beranjak pulang. Emosi dan kekecewaan menyelimuti jiwa yang tak terpuaskan. Kupacu motorku sekencang mungkin dijalanan yang pukul 11:30 yang saat itu sudah sepi, Kalau tidak teringat pesan ibu, mungkin aku akan terus ngebut. Aku memelankan motorku, sambil mencoba merenung dan menikmati aura malam jalan gatot subroto, apakah aku bahagia tadi, kecewakah atau senangkah. Jawabku Semuanya. Senang, kecewa dan bahagia. Kecewa karena permainan burukku, senang karena akhirnya bermain futsal lagi, bahagia karena “masalah”-ku menguap. Selalu ambil sisi positifnya, kita akan merasa senang dan bahagia.
***** 13 Menit *****
Tiga belas menit. Seandainya aku harus berlari selama itu untuk melindunginya, maka menit ke empat belas dia mungkin tak bisa kuselamatkan, karena aku terlalu lelah. Inilah batasku, namun takkan memudarkan semangatku, untuk bekerja dan berusaha lebih keras, Menyadari keterbatasan dan memperbaiki apa yang bisa kuperbaiki.
untukmu dan untukNya aku berjuang. Sampai batas 13 menitku itu habis.
Si Guwe Pas Lebaran
October 19, 2007
1428 Hijriyah bagi gw, adalah lebaran yang sedikit berbeda, SeCara, Gak Ada sodara-sodara yang ngasih gw THR lagi. Tapi… Justru gw yang ngasih THR, ke Sepupu-sepupu badung gw yang banyak itu. UnTung jauh2 hari Nyokap dah siapin duit gocengan segepok huhuhuhu. itung-itung berbagi kebahagiaan gak ada salahnya. Yang Seru, pas gw nyampe di Rumah Nenek yg notabene tempat annual gathering all my family when Lebaran comes, gw langsung dikerubutin tuh bocah2, sekitar 8-10 orangan anak, minta “salam tempel”nya… hahahha… secara gw lom siapin tuh gocengan, kasian jg saat terpaksa gw bilang “eh… ngapain nih… THR apaann seh”.. hehehe.. dan mereka bubar dengan wajah cembetut yg bikin gw ketawa-ketawa sendiri. anyway tetep gw kasih tuh gocengan ke mereka setelahnya n mereka seneng…
Well,1 Syawal 1428 Hijriyah, setelah sebulan sebelumnya gw puasa, bukan hanya menahan Laper, haus atau Syahwat, tetapi juga Gejolak Melankolis Perasaan Cinta, yang sometimes bikin gw tenggelam, but sometimes bikin gw melayang… hahaha. Laper Aus Syahwat bisa gw kendaliin dengan mudah, Ibadah… hmmm lumayan lah daripada taun lalu. Gw Coba Jadiin tuh Ramadhan yang bisa menempa diri gw, untuk membentuk karakter, disiplin dan kepribadian yang Lebih baik. Namun, Hanya satu yang tak pernah berkurang dan selalu menggangguku saat Ramadhan, TorMent of Loves, I hate that feeling. Gw minta saran temen, n he said, klo bulan ramadhan, lebih baik kita fokus pada Cinta kita sesungguhnya, cinTa yang Maha Mencintai, Maha Menyayangi, Yang Tak PerNah Berhenti Memberikan Cintanya…. dan dia Benar. betapa Diriku ini terlalu Larut dalam FaTamorGana CinTa.
1 Syawal 1428 Hijriyah. Hari dimana Keluarga adalah tempat dimana kebahagiaan itu ada. Aku senang, semua anggota keluarga berkumpul saat itu, termasuk adik yg kuliah di ITS , setelah sekian lama tak bertemu. Sungguh saat yang menyenangkan. Sejenak kita bisa melupakan masalah dan problematika hidup. dan yang ada saat itu hanyalah Opor Ayam, ketupat, dan Sambal Goreng Ati yang bisa Kita Nikmati Bersama. Family, the one that always be there, when we need.
Untuk teman-teman, Mohon Maaf lahir dan Batin. I luv u all, especially U.
(sebuah Ecard yang menghabiskan setengah hari kerjaku di Kantor)
- Sebelum dia Pergi -
October 9, 2007
Bosan Januari saat gempita sorak sorai para peniru bising meramaikan kota …
Terasing Februari saat mereka menolak dirinya untuk bermain bersama…
Dalam sepi, Maret merenung pada takdir yang baru dimulainya kemarin
Mei pun sedih…teringat namanya terukir jelas di prasasti hatinya….
Semakin lelah juni berjalan menapaki takdirnya…
Juli pun tiba, saat gadis itu semakin dewasa…
Andai cinta tidak menyiksanya, agustus mungkin tak pernah mengerti apa itu mencintai….
September saat itu merenung lagi tentang takdirnya….
Entah bisa berbuat apa, Oktober, November dan Desember adalah sisa harapan sebelum 2007 pergi….
